Jumat, 15 September 2017

Kampus dan Gerakan Radikal-Takfiri



Kampus-kampus perguruan tinggi di Indonesia, baik kampus umum maupun kampus berbasis agama (Islam), kini telah menjadi lahan garapan bagi kelompok radikal-takfiri untuk menggalang pengikut.
Sejumlah kasus akhir-akhir ini memperlihatkan kalau rekrutan asal kampus menjadi aktor penting dalam gerakan terorisme, baik di dalam maupun di luar negeri. Sebut saja kasus kelompok Cibiru, kasus alumni UIN Syarif Hidayatullah perakit bom atau yang menyembunyikan teroris pelaku bom JW Mariot-Ritz Carlton, serta yang terakhir adalah munculnya sosok Bachrum Syah, anggota ISIS yang videonya beredar di Youtube.
Bangkitnya minat sejumlah mahasiswa kepada gerakan radikal-takfiri di kampus berjalan seiring dengan makin meredupnya pergerakan organisasi-organisasi mahasiswa Islam moderat yang sudah cukup tua, seperti HMI, PMII, dan IMM. Organisasi moderat semacam itu juga semakin cenderung bercorak politis daripada agamis. Mereka lebih tertarik pada politik internal mahasiswa untuk memperebutkan kekuasaan di BEM, misalnya, ketimbang fokus pada pembinaan keagamaan bagi anggota-anggotanya. Anggota muda mereka yang semula hendak belajar agama secara serius, akhirnya tidak sedikit yang kecewa karena tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan, lantas mencari kelompok-kelompok pengajian atau organisasi keagamaan di kampus yang lebih menjanjikan kesholehan.
Saat ini cukup berkembang kelompok atau organisasi mahasiswa yang beraliran radikal-takfiri, baik ekstra maupun intra kampus, terbuka maupun sembunyi-sembunyi. Ciri utama dari kelompok ini adalah eksklusif, suka menyerang keyakinan lain, intoleran, anti dialog, dan tentu saja berwatak hitam putih. Mereka merasa diri paling benar, paling Islam, dan dengan mudah menghalalkan darah orang/kelompok lain yang berbeda paham. Memang tidak semua kelompok radikal-takfiri bisa langsung dicap sebagai kelompok teroris. Namun demikian, potensi pengikut kelompok tersebut untuk menjadi seorang teroris sangatlah kuat, sebagaimana telah kita lihat kenyataannya. Watak mereka yang intoleran dan cenderung pada kekerasan, membuat mereka mudah untuk melakukan tindakan radikal anarkis, termasuk tindakan terorisme.
UIN yang terjangkiti
UIN/IAIN/STAIN selama ini dikenal sebagai kampus yang mengembangkan Islam yang berwatak moderat, inklusif, dan toleran. Ketika ternyata sejumlah mahasiswa/alumni UIN terlibat dalam gerakan terorisme, kita pun menjadi bertanya-tanya: Apakah corak keislaman UIN telah bergeser dari watak dasarnya? Deklarasi simpatisan ISIS di kampus UIN Syarif Hidayatullah pada Februari 2014, sungguh menegaskan kalau kelompok radikal telah menyusup demikian jauh ke jantung UIN. Keberanian mereka menghimpun massa di gedung Syaidah Inn dan masjid kampus UIN, menandakan bahwa mereka memiliki jaringan yang cukup kuat di internal UIN dan mengetahui persis prosedur penggunaan fasilitas-fasilitas kampus.
UIN yang telah berubah status dari IAIN kini telah membuka program-program studi umum semisal teknik, sains, kesehatan, dan sebagainya. Pada program-program studi umum itu memang mata kuliah agama masih diajarkan, namun tentu saja tidak setara kuantitas maupun kualitasnya dengan program-program studi keislaman. Integrasi keilmuan Islam ke dalam studi-studi umum di UIN pun belum seperti harapan banyak pihak. Jika sebelumnya IAIN dihuni mayoritas lulusan pesantren (yang kebanyakan berwatak moderat), maka di era UIN, lulusan sekolah-sekolah menengah umum jumlahnya cukup signifikan.
FBFXnmXsycPada umumnya lulusan pesantren tidak cukup tertarik bergabung dengan kelompok/organisasi radikal-takfiri, sebab mereka sudah cukup mengerti peta aliran beserta pemikirannya. Berbeda dengan lulusan sekolah-sekolah menengah umum yang di kampus ingin belajar agama, karena semangatnya yang meluap-luap, akhirnya mudah jatuh pada radikalisme dan ektrimisme. Harus pula diingat bahwa tidak sedikit dari lulusan sekolah-sekolah menengah umum memang telah bersentuhan dengan pemikiran radikal sejak mereka aktif di organisasi rohani sekolah (Rohis) yang tidak jarang telah terkontaminasi pemahaman radikal.
Belakangan ada pula trend di mana pentolan-pentolan gerakan radikal-takfiri sengaja menempuh studi di UIN (termasuk kuliah di program pasca sarjana) yang sebenarnya mereka anggap kurang Islami—bahkan sekuler. Gelar akademik yang mereka peroleh dari UIN, sebagai lembaga pendidikan Islam resmi milik negara, mereka manfaatkan untuk menyusup ke masyarakat awam, yang umumnya sangat percaya dengan dakwah yang disampaikan jebolan kampus semacam UIN. Ketika pentolan radikal-takfiri ini menempuh studi di UIN, watak keislaman UIN yang moderat tadi, tidak berpengaruh sama sekali kepada watak mereka. Sebaliknya, mereka malah mencari ruang ataupun celah untuk mempengaruhi sesama mahasiswa.

Anti-intelektualisme
Kelompok/organisasi yang berkecenderungan radikal-takfiri selama ini nampak dibiarkan begitu saja oleh pihak kampus. Pimpinan kampus yang awam dalam hal aliran keagamaan malah melihat perkembangan kelompok ini sebagai sesuatu yang positif dengan asumsi bahwa kelompok ini mengembangkan religiusitas (kesalehan) di dalam kampus. Bahkan di beberapa kampus, penyebaran ideologi takfiri dan perekrutan anggota kelompok ini dilakukan melalui kegiatan resmi kampus seperti program mentoring mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Kelompok ini juga lebih disenangi oleh birokrasi kampus karena mereka nampak a-politis, berbeda dengan organisasi semacam BEM atau HMI yang berkarakter politis dan seringkali berhadap-hadapan dengan birokrasi kampus.
Masjid-masjid kampus tidak jarang dikuasai kelompok radikal-takfiri ini, yang membuat masjid kampus seringkali menjadi corong kekerasan wacana seperti melaknat, membid’ahkan, menyesatkan, mengkafirkan, atau bahkan menghalalkan darah mazhab, aliran, atau kelompok-kelompok Islam lainnya yang berbeda pemahaman dengan kelompok ini. Islam yang berkembang di kampus-kampus pun menjadi anti intelektuil, anti dialogis, eksklusif, dan intoleran. Corak Islam semacam ini tentu saja bertolak belakang dengan tradisi atau nilai-nilai ilmiah yang merupakan identitas perguruan tinggi. []

Menulis buku "Dalam Diam Kita Tertindas: Memperjuangkan Tata Dunia Baru" (2007) dan novel "Sekuntum Peluru" (2010). Saat ini ia bergiat sebagai pimpinan redaksi Penerbit Liblitera, Makassar.


EmoticonEmoticon