Beruntunglah kita masih punya
politisi sakti sekaliber Setya Novanto. Blio tergolong salah satu politisi
langka di republik ini, yang kalau tidak dilestarikan otomatis akan punah.
Dalam satu generasi, Tuhan hanya menciptakan sebiji dua biji belaka politisi macam
Pak Nov ini.
Kehebatan Pak Nov dalam politik
tentu saja merupakan bakat dan gemblengan alam. Ia jelas pernah ikut training
perkaderan partai, tetapi training semacam itu sesungguhnya sekadar formalitas
belaka bagi bibit unggul semacam Pak Nov yang memang telah memiliki segalanya
untuk menjadi politisi kelas wahid sejak dari dalam kandungan.
Kata orang, Pak Nov itu politisi
yang licin. Licin seperti belut. Belut yang diolesi pelumas pula. Lha, iya,
tapi memangnya kenapa? Justru karena licin bagai belut berpelumas itulah maka
Pak Nov menjadi legenda hidup dalam perpolitikan di Indonesia. Politisi itu
kalau makin kayak belut ya makin jempolan. Bila ada politisi yang keras, kokoh,
lurus, dan kaku macam tiang listrik, ya itu mah politisi kacangan.
Sosok Pak Nov kian melegenda
ketika blio tiba-tiba mundur dari jabatan Ketua DPR pada 16 Desember 2015 lantaran
tersangkut skandal “papa minta saham”, namun tanggal 30 November 2016, blio
kembali menduduki kursi Ketua DPR. Kalau Pak Nov politisi ecek-ecek, mana
mungkin blio bisa melakukan manuver secanggih dan selihai itu.
Berkali-kali sudah nama Pak Nov disebut-sebut
dalam sejumlah skandal korupsi, namun bukan perkara mudah untuk membuktikannya.
Tanggal 17 Juli 2017 KPK bahkan menetapkan Pak Nov sebagai tersangka kasus
KTP-el, namun 74 hari kemudian hakim tunggal Cepi Iskandar yang memimpin sidang
praperadilan memutuskan bahwa penetapan Pak Nov sebagai tersangka oleh KPK
dinyatakan tidak sah. Keputusan hakim Cepi itu dibacakan pada saat Pak Nov tengah
berbaring di rumah sakit. Keputusan tersebut jelas membantu Pak Nov lekas
sembuh dari penyakit yang dideritanya.
Sebenarnya publik meragukan
apakah Pak Nov benar-benar sakit atau itu sekadar sandiwara belaka untuk
menghindari panggilan KPK. Tapi kita semua segera tahu bahwa blio memang sungguh
sakit setelah foto blio yang tengah diinfus dan mengenakan masker Continuous
Positive Airway Pressure (CPAP) beredar luas di dunia maya. Foto itu lagi-lagi
diragukan publik, bahkan dijadikan meme dengan nada olok-olok. Pak Nov dituding
sekadar akting di foto itu.
Publik kita ini memang
kadang-kadang keterlaluan. Lha, orang lagi sakit kok dijadikan bahan olokan.
Kolega Pak Nov di DPR, Fadli Zon, mengutarakan keprihatinannya atas sikap publik
yang demikian itu. “Ya bagaimana ya, zaman sekarang kan orang bisa seenaknya
saja, seperti tidak punya aturan,” kata Pak Fadli. “Saya kira kalau orang sakit
itu harusnya kita doakan saja supaya cepat sembuh,” sambungnya.
Pak Nov tentu saja tidak akan
terganggu dengan segala olok-olokan yang ditujukan padanya itu. Bukan karena
blio bermuka tembok alias tidak lagi punya rasa malu. Bukan! Sebagai manusia
biasa, Pak Nov tentu punya juga rasa malu. Soal rasa malu yang dimiliki Pak Nov
itu masih banyak atau sudah minus, ya hanya Pak Nov sendiri yang tahu. Yang
jelas, Pak Nov memiliki kekuatan mental di atas rata-rata. Hal itulah yang
membuatnya tidak cengeng, galau, ngambek, apalagi patah hati hanya karena
meme-meme tidak bermutu yang dibuat orang-orang bermental lemah tadi.
Orang yang tak punya rasa malu biasanya
memang punya mental di atas rata-rata. Tapi itu bukan berarti Pak Nov tak punya
rasa malu loh, hanya karena mental blio di atas rata-rata manusia normal. Jangan
salah ya!

EmoticonEmoticon