Jumat, 29 September 2017

Setya Novanto dan Belut Berpelumas



Beruntunglah kita masih punya politisi sakti sekaliber Setya Novanto. Blio tergolong salah satu politisi langka di republik ini, yang kalau tidak dilestarikan otomatis akan punah. Dalam satu generasi, Tuhan hanya menciptakan sebiji dua biji belaka politisi macam Pak Nov ini.


Kehebatan Pak Nov dalam politik tentu saja merupakan bakat dan gemblengan alam. Ia jelas pernah ikut training perkaderan partai, tetapi training semacam itu sesungguhnya sekadar formalitas belaka bagi bibit unggul semacam Pak Nov yang memang telah memiliki segalanya untuk menjadi politisi kelas wahid sejak dari dalam kandungan.

Kata orang, Pak Nov itu politisi yang licin. Licin seperti belut. Belut yang diolesi pelumas pula. Lha, iya, tapi memangnya kenapa? Justru karena licin bagai belut berpelumas itulah maka Pak Nov menjadi legenda hidup dalam perpolitikan di Indonesia. Politisi itu kalau makin kayak belut ya makin jempolan. Bila ada politisi yang keras, kokoh, lurus, dan kaku macam tiang listrik, ya itu mah politisi kacangan.

Sosok Pak Nov kian melegenda ketika blio tiba-tiba mundur dari jabatan Ketua DPR pada 16 Desember 2015 lantaran tersangkut skandal “papa minta saham”, namun tanggal 30 November 2016, blio kembali menduduki kursi Ketua DPR. Kalau Pak Nov politisi ecek-ecek, mana mungkin blio bisa melakukan manuver secanggih dan selihai itu.

Berkali-kali sudah nama Pak Nov disebut-sebut dalam sejumlah skandal korupsi, namun bukan perkara mudah untuk membuktikannya. Tanggal 17 Juli 2017 KPK bahkan menetapkan Pak Nov sebagai tersangka kasus KTP-el, namun 74 hari kemudian hakim tunggal Cepi Iskandar yang memimpin sidang praperadilan memutuskan bahwa penetapan Pak Nov sebagai tersangka oleh KPK dinyatakan tidak sah. Keputusan hakim Cepi itu dibacakan pada saat Pak Nov tengah berbaring di rumah sakit. Keputusan tersebut jelas membantu Pak Nov lekas sembuh dari penyakit yang dideritanya.

Sebenarnya publik meragukan apakah Pak Nov benar-benar sakit atau itu sekadar sandiwara belaka untuk menghindari panggilan KPK. Tapi kita semua segera tahu bahwa blio memang sungguh sakit setelah foto blio yang tengah diinfus dan mengenakan masker Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) beredar luas di dunia maya. Foto itu lagi-lagi diragukan publik, bahkan dijadikan meme dengan nada olok-olok. Pak Nov dituding sekadar akting di foto itu.

Publik kita ini memang kadang-kadang keterlaluan. Lha, orang lagi sakit kok dijadikan bahan olokan. Kolega Pak Nov di DPR, Fadli Zon, mengutarakan keprihatinannya atas sikap publik yang demikian itu. “Ya bagaimana ya, zaman sekarang kan orang bisa seenaknya saja, seperti tidak punya aturan,” kata Pak Fadli. “Saya kira kalau orang sakit itu harusnya kita doakan saja supaya cepat sembuh,” sambungnya.

Pak Nov tentu saja tidak akan terganggu dengan segala olok-olokan yang ditujukan padanya itu. Bukan karena blio bermuka tembok alias tidak lagi punya rasa malu. Bukan! Sebagai manusia biasa, Pak Nov tentu punya juga rasa malu. Soal rasa malu yang dimiliki Pak Nov itu masih banyak atau sudah minus, ya hanya Pak Nov sendiri yang tahu. Yang jelas, Pak Nov memiliki kekuatan mental di atas rata-rata. Hal itulah yang membuatnya tidak cengeng, galau, ngambek, apalagi patah hati hanya karena meme-meme tidak bermutu yang dibuat orang-orang bermental lemah tadi.

Orang yang tak punya rasa malu biasanya memang punya mental di atas rata-rata. Tapi itu bukan berarti Pak Nov tak punya rasa malu loh, hanya karena mental blio di atas rata-rata manusia normal. Jangan salah ya!

Menulis buku "Dalam Diam Kita Tertindas: Memperjuangkan Tata Dunia Baru" (2007) dan novel "Sekuntum Peluru" (2010). Saat ini ia bergiat sebagai pimpinan redaksi Penerbit Liblitera, Makassar.

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon